Warga Kecewa, Penanganan Jembatan Gantung Putus di Pugung Dinilai Lamban
PORTALTANGGAMUS.ID Tanggamus– Warga Pekon Banjar Agung Ilir, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, menyampaikan kekecewaan terhadap lambannya penanganan jembatan gantung yang putus sejak Senin sore (09/02/2026). Hingga memasuki hari keempat pascakejadian, belum terlihat adanya perbaikan fisik di lokasi.
Foto Dokumentasi Redaksi
Jembatan gantung yang menjadi akses vital masyarakat tersebut putus setelah sebuah mobil angkutan desa (Angdes) yang membawa belasan penumpang melintas. Saat kendaraan hampir mencapai ujung jembatan, sling penahan bagian kiri bawah dilaporkan terputus, sehingga kendaraan terjun ke dasar sungai dari ketinggian sekitar 15 meter. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, meskipun sejumlah penumpang mengalami luka ringan.
Sejak jembatan tersebut tidak dapat digunakan, aktivitas warga terganggu. Jembatan gantung itu merupakan satu-satunya akses terdekat menuju jalan poros utama. Warga kini harus memutar dengan jarak tempuh yang lebih jauh dan waktu perjalanan lebih lama.
Dampak paling terasa dialami para pelajar. Sejumlah siswa yang bersekolah di luar wilayah pekon terpaksa tidak masuk sekolah karena akses terputus. Bahkan, kegiatan belajar mengajar di SDN 2 Banjar Agung Ilir untuk sementara dilakukan secara daring.
“Kami sangat terdampak. Sudah beberapa hari aktivitas warga terhenti. Anak-anak tidak bisa sekolah seperti biasa,” ujar Deden, Kepala Dusun setempat, saat ditemui di lokasi.
Sehari setelah kejadian, perwakilan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanggamus melakukan peninjauan ke lokasi. Dalam kunjungan tersebut, menurut keterangan warga, pihak BPBD menyarankan agar pemerintah pekon segera mengajukan proposal penanganan darurat.
“Disampaikan agar proposal dibuat dan diketahui oleh kadus, kepala pekon, dan camat. Katanya kalau proposal masuk, bisa segera ditangani secara darurat,” kata Deden mengulang penjelasan yang diterimanya saat kunjungan tersebut.
Namun, hingga hari keempat pascakejadian, belum ada tindak lanjut berupa perbaikan di lapangan. Warga mengaku menerima informasi bahwa BPBD tidak dapat menangani perbaikan karena kejadian tersebut dinilai bukan bencana alam, melainkan kecelakaan.
Hal ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Pasalnya, menurut warga, kronologi kejadian telah disampaikan secara lengkap sejak awal kepada pihak terkait.
Saat dikonfirmasi, pejabat fungsional penata penanggulangan bencana ahli muda BPBD Tanggamus, Ashar, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan ke lokasi.
“Kemarin kami sudah melakukan peninjauan. Proposalnya sudah masuk. Namun kami bekerja sesuai prosedur. Hari ini akan kami koordinasikan dengan kepala OPD untuk memastikan posisi dan tindak lanjut proposal tersebut,” ujarnya.
Ashar belum dapat memastikan kapan perbaikan jembatan gantung tersebut dapat direalisasikan.
Kekecewaan warga semakin bertambah karena belum adanya kepastian waktu penanganan maupun bantuan darurat bagi masyarakat terdampak. Sebagian warga bahkan menyatakan siap melakukan perbaikan secara swadaya apabila pemerintah daerah tidak dapat menangani dengan alasan regulasi.
“Kalau memang tidak bisa ditangani karena dianggap bukan bencana alam, kami butuh kepastian. Supaya kami bisa bergerak sendiri secara swadaya. Jembatan ini sangat penting bagi kami,” tegas Deden.
Warga berharap pemerintah daerah segera memberikan kejelasan serta solusi konkret agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Selain menyangkut mobilitas ekonomi, keberadaan jembatan tersebut juga menyangkut akses pendidikan dan layanan dasar warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kabupaten Tanggamus melalui OPD terkait masih dalam tahap koordinasi internal untuk menentukan langkah penanganan lebih lanjut. (**)
0 Response to "Warga Kecewa, Penanganan Jembatan Gantung Putus di Pugung Dinilai Lamban"
Posting Komentar